~Momen
Saya tengah membaca Al-Quran, Surat Yusuf, ketika setelah subuh itu istri saya memberitahukan bahwa hasil pregnance test menunjukkan tanda positif hamil. Kami tentu berbahagia sekali. Dan hari-demi hari kehamilan pun dilalui. 
Beberapa tugas yang biasanya dilakukan ibu rumah tangga pun beberapa saya gantikan :-) Apalagi istri saya sempat harus bedrest beberapa hari di awal kehamilan. 
Alhamdulillah selama kehamilan tak ada masalah berarti. Morning sickness, muntah di warung makan atau di pinggir jalanpun menjadi cerita tersendiri. Hari, minggu, bulan dilalui akhirnya memasuki bulan 8.
Selama kehamilan kami selalu memeriksakan di JIH. Untuk persalinan akhirnya kami memutuskan di RS Sardjito. Selagi ada waktu, kami memeriksakan ke dokter di RS Sardjito sekaligus untuk meminta surat pengantar persalinan jika sewaktu-waktu saat nya tiba (saat itu tinggal 2 minggu HPL). 
Tak disangka ternyata saat diperiksa USG ketuban diindikasi kurang sehingga janin harus segera dikeluarkan dalam 3 hari ke depan, baik melalui induksi atau operasi. Kontan saja berita ini membuat kaget. 
Usai periksa, kami memutuskan untuk mencari second opinion ke dokter lain. Ternyata diagnosanya hampir sama meski dokter ini masih memberi waktu sampai seminggu. 
Namun dokter satu ini cukup memberikan motivasi yang agak menenangkan dan membesarkan hati. Selama beberapa hari kami harus menata hati, terutama istri saya yang tentu saja khawatir, menangis dan susah tidur. 
Bayangan induksi yang sakit, atau operasi, juga memikirkan kondisi bayi kami, semua bercampur aduk. Ibu saya juga yang menyempatkan datang malam-malam juga sempat ikut nangis.
Saya cuma bilang ke istri bahwa semua sudah ada jalannya, tak ada jalan lain kecuali berpasrah dan mempercayakan kepada tim medis. Saya juga katakana, hamil dan bersalin adalah jihad-nya wanita. Kalau jihad perang saja ada yang meninggal, luka ringan, luka parah, kalau diniati dari awal insyaallah semua dimudahkan. 
Setelah dipertimbangkan dan didiskusikan, kami memutuskan untuk menyiapkan hati jika saja pada hari ketiga setelah periksa untuk langsung mondok di RS. Sebelum berangkat kami sempat membayar fidyah di salah satu panti asuhan, kemudian berbelanja keperluan untuk nantinya mondok. 
Siang itu istri saya menjalani tes NST untuk melihat kondisi kesehatan janin. Saya sempat ke kantor dulu karena tes ini agak lama dan tak dapat ditungguin. Selain itu saya ada jadwal mengajar diklat. 
Setelah mengajar dan kembali ke RS lagi, tes sudah selesai dan hasilnya janin Alhamdulillah sehat tapi ketuban sudah tinggal sedikit sehingga sore itu juga harus dilakukan tindakan yaitu dipacu/induksi. 
Jam 3 sore kami sudah masuk ruang bersalin dan tak lama kemudian induksi dilakukan. Perlu waktu 5 jam untuk menunggu reaksi. Saya membawa MP4 player jadi istri saya dapat mendengarkan musik untuk menenangkan diri. 
Jam 8 malam tak ada reaksi apa-apa sehingga harus diinduksi lagi. Beberapa keluarga istri datang tapi hanya di luar kamar bersalin. Sekitar jam 10 malam, keluarga saya datang dan di antaranya adalah kakak yang kebetulan bidan. 
Kakak saya ini langsung masuk kamar bersalin dan berdua dengan saya menunggu. Jam 1 malam bidan datang lagi menanyakan kondisi. Tidak ada reaksi apa-apa. Katanya induksi hanya dilakukan 4 kali, jika setelah itu tak ada reaksi maka harus segera dioperasi. 
Khawatir juga mendengarnya. Saya sendiri sebenarnya tak terlalu masalah dengan biaya, hanya saja istri saya yang lebih takut lagi kalau operasi.
Waktu berlalu dan tanda-tanda tak ada sama sekali. Ini tentu membuat panik. Untung ada kakak saya, jadi kami agak tenang. 
Alhamdulillah jam 4an pagi sudah ada reaksi. Jam 8 pagi sudah dimulai proses persalinan.
Proses inipun ternyata tidak mudah. Padahal persalinan adalah waktu yang kritis. Kata dokter maksimal hanya 1 jam proses ini berlangsung. Kalau 1 jam lebih dan bayi belum bisa lahir maka harus ada tindakan, karena bisa berakibat fatal bagi bayi. 
Di waktu kritis itu saya sudah tak mampu lagi berfikir. Semua hanya saya serahkan kepada Allah, benar-benar pasrah. Bahkan saya tak mau berpanjang-panjang ketika harus dijelaskan tindakan medis dan persetujuan tanda tangan dsb. Benar-benar hanya menyerahakan ke Sang Penguasa Hidup.
Dan ketika si kecil tangis pecah, betapa haru bahagia saya juga membuncah. Saya merasakan sebuah momen luar biasa dalam hidup. Syukur tak terkira semua akhirnya berakhir bahagia. Saya pun sujud syukur di kamar bersalin itu juga.
Terima kasih Tuhan, terima kasih semuanya, kepada para petugas medis, kepada keluarga dan teman-teman, kepada semuanya. Terimakasih pula yang terutama kepada Istriku. You are the best...
~